-->

25 Sep 2016

how's feel being a first jobber (part 1)


dulu. dulu sekali ketika saya masih "fresh", baru saja lulus dari dunia perkuliahan, saban hari saya habiskan duduk di depan komputer mencari pekerjaan yang cocok untuk saya. dengan idealis yang masih tinggi disertai dengan arogansi yang naudzubille, saya masih bermimpi untuk mewujudkan cita-cita saya sejak kecil untuk bekerja di bidang yang saya senangi, media. apa saja, asal di media. entah itu media cetak, tv maupun online. beberapa kali pula saya tes dan berulangkali pula saya gagal.

kira-kira hampir sembilan bulan lamanya saya jadi pengangguran. saya mulai give up mencari lowongan pekerjaan di dunia media. mungkin karena dari awal orangtua saya tidak ridho saya merantau jauh. saya tidak pernah dipanggil wawancara ke media-media besar di Jakarta. mentok juga di Jawa Pos Radar Solo. itu juga nggak lolos. dari beberapa bulan wasting time itu pula akhirnya saya mulai introspeksi diri. kayanya ada yang salah sama cara saya mencari kerja. saya terlalu picky, padahal modal pengalaman saja nggak punya.

sembilan bulan dalam masa gamang itu pula saya selalu terjaga di sepertiga malam, berharap Allah mau berbaik hati memberikan saya pekerjaan yang saya inginkan. begitu doa saya pada awalnya. namun lambat laun isi doanya mulai bergeser menjadi, "ya Allah, beri saya pekerjaan yang memang sesuai untuk saya, dekat dengan orangtua saya, berkah dan yang pasti dapat mendekatkan diri saya pada-Mu,". berbekal doa alakadarnya setiap malam itu, akhirnya saya lillahi ta'ala memasukkan banyak lowongan di sekitar Solo-Jogja dengan job desk apa saja. bukan cuma yang berhubungan dengan media, tapi apapun. dan ajaibnya, dari sekian banyak yang saya sebar, semua berhasil dipanggil wawancara! tapi pada akhirnya ada satu yang meloloskan saya hingga akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. sebagai apa? sebagai seorang Management Trainee for Supervisor outlet sebuah distributor aksesoris HP di kota Solo.

sedikit flashback, saya adalah seorang lulusan ilmu Komunikasi yang kental dengan idealisme media. bekerja sebagai MT adalah first time untuk saya. susah? banget! apalagi segala hal mengenai ilmu pertokoan adalah awam bagi saya. dari kelima teman MT saya pada saat itu, sayalah satu-satunya orang yang bener-bener masih bayi. jalannya meraba-raba, dari jongkok mau berdiri saja susahnya minta ampun. saya benar-benar struggle sendirian saat itu, berusaha mengikuti ritme teman-teman MT satu generasi yang saya yakin sudah siap diterbangkan satu per satu. idealisme saya juga masih sering menoyor-noyor kepala saya dan berteriak, "bego, ngapain lu disini! ini bukan tempat lu!" "mau dibawa kemana mimpi lu selama ini? di toko doang?" "jadi....Ipit yang pengen banyak jalan ke berbagai tempat itu harus berhenti disini? menyedihkan!" begitulah kira-kira setan-setan bernama idealisme itu terus menghakimi saya setiap hari, setiap malam. saya jadi tidak bersyukur dengan pekerjaan yang sudah saya dapat.

tapi saya bukannya seorang pengeluh yang lantas diam begitu saja dengan pikiran-pikiran yang terus memaksa saya untuk give up sebagai seorang MT store. saya merenung dan nggak jarang pula setiap kali di titik terjenuh saya bekerja, saya selalu dikasih surprise sama Allah. ketika saya menangis sendirian di toilet karena nggak cocok sama salah satu staff di salah satu outlet mereka, pada akhirnya saya malah didekatkan dengan orang tersebut. ketika saya pasrah dengan hasil tes presentasi saya, saya malah dapat nilai yang lebih bagus dari hasil tes sebelumnya. dan ketika saya mulai ragu dengan diri saya sendiri, selalu ada saja kejadian yang membuat saya lalu berkata,"toh, juga bisa kan?". bukan cuma itu saja, karena saya sering berpindah-pindah outlet, bertemu banyak staff dan customer, saya jadi punya banyak cerita. everybody have their own struggle...and pain. but, they can handle this, why not with you? intinya sih begitu

dari situ saya mulai merasa malu. bisa-bisanya saya jadi tukang ngeluh terus padahal ini pekerjaan juga saya sendiri yang minta. dekat dengan keluarga? iya. berkah? iya. yang saya lupa cuma satu, saya LUPA kalau saya seharusnya bisa lebih dekat dengan Tuhan saya, yang kasih saya pekerjaan. saya malah sibuk dengan segala protes kenapa saya ada disini. ujung-ujungnya jadi tidak bersyukur. lalu, bagaimana sekarang? apakah sudah menemukan makna seorang first jobber yang sesungguhnya?

jawabannya, ya. semenjak pindah di cabang yang paling baru ini. otak saya udah mulai bener. berpikir bahwa Allah pasti punya alasan mengapa saya ada disini. saya cuman belum nemu jawabannya saja. struggle sendirian tidak masalah dan anggapan bahwa first jobber adalah ajang untuk mencari pengalaman saja, itu salah buat saya. saya diberi kesempatan belajar sebanyak-banyaknya disini tak lantas lalu membuat saya pergi ketika saya sudah sedikit "pintar". karena yang sedang saya bangun adalah motivasi bekerja Lillah, maka entah mengapa perasaan untuk mengabdi pada yang mempercayai saya untuk belajar di perusahaanya semakin besar. keterikatan saya dengan perusahaan ini mulai tumbuh. saya hanya perlu sabar dan menertawakan segala macam kebodohan yang saya buat sebagai seorang MT disini. saya ingin, nantinya saya bisa memberi kontribusi besar pada perusahaan di masa depan bermodalkan kebodohan-kebodohan saya selama 6 bulan masa training. kan Allah sendiri pernah bersabda...barang siapa pandai bersyukur, Allah akan menambah kenikmatan orang tersebut. saya juga mau :)

3 komentar:

  1. Sangat menginspirasi. Memang selalu ada jalan asal mau melewati usaha. Good luck

    BalasHapus
  2. Bagus fit.. selalu lakukan yang terbaik..
    Pasti akan terbuka jalan yang lebih baik..
    Itu pelajaran yg q ambil dari perjalanan hidup aq..
    未来のために頑張ってください。。
    Mirai no tameni ganbatte kudasai
    Demi masa depan selalu semangat..

    BalasHapus
  3. Tetap semangat mba someday mba akan memetik buahnya dari perjuangan mba selama ini ^^ salam kenal mb

    BalasHapus

Rainbow Pinwheel Pointer